Monday, October 29, 2018

Dia yang di Seberang Peron

Pukul delapan malam
kududuk di peron tiga arah tanah abang
Lama sekali kereta tak datang jua

Bosan kurasakan
Gawaiku mati

Bodoh
Kutak bawa powerbank

Kupandangi manusia di seberang sana
Seperti ada yang ganjil

Ntah apa...

Masih terus kupandangi
Sampai akhirnya kereta di peron seberang datang
Mata tak lepas dari pandangan itu

Dan kusadari
Dia yang di seberang sana hilang
Siapakah dia?
Sampai kupikirkan hingga sekarang..

Thursday, October 18, 2018

Rindu yang Merindu

Aku,
kadang menjadi si Rindu,
kadang jadi yang merindu.

Bahas soal rindu,
aku tidak tahu pasti wujudnya,
apalagi mendefinisikannya.

tapi,
yang jelas,
setiap langit Tuhan mulai gelap,
ia datang seolah ingin menjadi teman malamku yang sunyi...

Hai rindu, malam ini silakan temani aku hingga terlelap..

Anda Pemula? 5 Hal ini Harus Diperhatikan

Indonesia memiliki banyak sekali pegunungan. Belakangan ini mendaki gunung menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan muda-mudi pelajar dan mahasiswa. Di antara mereka sudah memiliki banyak pengalaman, tak sedikit juga yang baru mau memulai untuk akrab dengan kegiatan ini. Kebanyakan dari mereka yang baru mulai mendaki gunung memiliki motivasi untuk mencoba hal-hal baru dan mendapatkan pengalaman saat mendaki. Tidak lupa untuk mengambil gambar pemandangan yang sangat indah untuk dipameri maupun diabadikan sendiri.

Untuk mencapai puncak gunung membutuhkan tenaga yang banyak dan mental yang kuat. Menurut pengalaman saya dan teman-teman pendaki yang lain setelah mendaki, banyak pendaki yang gugur saat menuju puncak gunung, Hal ini disebabkan karena kurangnya persiapan. 

Gn. Prau 2.565 m (8.415 kaki)


Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum memutuskan untuk mendaki, yaitu 

1. Latihan Fisik Sebelum Mendaki Gunung 

Kondisi fisik yang sehat dan bugar menjadi salah satu syarat dalam melakukan kegiatan mendaki gunung. Tak memandang seberapa tinggi yang akan dikunjungi, Latihan fisik sebelum mendaki gunung khususnya bagi yang baru pertama kali mendaki gunung wajib melakukan minimal 2 minggu sebelum memulai pendakian. Latihan fisik yang harus dilakukan, yaitu a). Melatih kekuatan tangan, b). Melatih kekuatan kaki, c). Melatih pernafasan, dan d). Melatih punggung dan pundak.

2. Perlengkapan yang Harus Dibawa

Perlengkapan untuk mendaki gunung juga hal yang harus disiapkan secara matang, jangan sampai ada yang kurang atau bahkan berlebihan. Pendaki dianjurkan untuk membawa barang yang hanya mereka butuhkan agar tidak memberatkan saat mendaki. 

3. Mendaki dengan Orang Yang Berpengalaman 

Hal ini akan sangat membantu kamu yang baru pertama kali mendaki. Mendaki dengan orang yang berpengalaman akan terasa mudah karena mereka sudah paham dengan jalur-jalur pendakian. 

4. Jangan Mengeluh 

Jalur yang begitu curam dan berbatu membuat kita merasa lelah dan jarang dari kita yang tidak mengeluh. Mengeluh adalah hal yang wajar, tetapi usahakan untuk tidak berlebihan. Menyemangati diri sendiri bisa dijadikan solusi untuk tetap bisa menikmati indahnya pemandangan di gunung. 

5. Membawa Uang yang Cukup 

Jangan membawa uang berlebihan bisa untuk menghemat pengeluaran saat mendaki. 

Meskipun terdapat banyak misteri, gunung bukan untuk ditakuti. Mendaki sebuah gunung merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan dapat menenangkan pikiran. 


Wednesday, October 17, 2018

Perjalanan Hidup yang Perlu Disyukuri



Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Perjalanan hidup tidak selalu mulus, kadang untuk mencapai kebahagiaan kita harus melewati banyak lika-liku. Semasa duduk di bangku SMP ia merasa kesulitan dalam belajar. Ia membutuhkan usaha yang lebih untuk dapat setara dengan teman-temannya. Memiliki teman yang lebih darinya membuat ia tidak percaya diri. Ia sempat tidak menjadi diri sendiri.

“Saya merasa tidak nyaman bersekolah di sini, selain sekolah saya bertaraf internasional saya juga tidak bisa menjadi diri saya sendiri,” ujar Bunga.

Sebelumnya, Bunga bersekolah di SMPN 2 Depok lulus tahun 2012. Meski dirinya tidak nyaman, ia tetap menjalani tugasnya sebagai seorang siswi. Ketika pengumuman kelulusan, ia mendapat nilai yang buruk beda dengan teman-temannya. Akhirnya pada saat itu, ia memutuskan untuk memilh sekolah yang umum dan tidak lagi bertaraf internasional. Bunga memilih SMAN 9 Depok pada tahun 2012 tersebut. Menurutnya pada saat di SMA, ia merasa menjadi diri sendiri. ia diakui sebagiai siswi yang unggul pada saat itu. Ia merasa semuanya baik-baik saja selama duduk di bangku SMA.

Semua keadaan berubah. Hal yang membuat Bunga bimbang datang lagi pada saat menentukan dimana ia akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Awalnya, ia mengikuti berbagai macam test untuk ke perguruan tinggi. Ditahun 2015 ia lulus test dan dapat di jurusan hukum Universitas Veteran Jakarta, namun ia merasa jurusan itu tidak tepat untuknya. Karena, pada saat itu Universitas Veteran Jakarta baru berubah menjadi PTN, sehingga belum mendapatkan akreditasi. Jurusan hukum diabaikan, ia akhirnya memutuskan untuk menunda setahun dan mengikuti bimbingan belajar di Nurul Fikri dan les bahasa Inggris di LBPP LIA.

Memasuki tahun 2016, Bunga mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri lagi. Ia lulus lagi di Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Islam Negeri. Namun, orang tua Bunga menentang dengan alasan prospek kerjanya tidak jelas. Ditinggalkannya lagi, ia tidak menyerah begitu saja. Bunga mengikuti seleksi program DIII IPB jurusan komunikasi. Lagi-lagi ia diterima, namun kali ini ia telat untuk melakukan registrasi.

Ketika Politeknik Negeri Jakarta membuka UMPN gelombang 2, Bunga mengikuti testnya. Bunga dinyatakan mahasiswa cadangan di jurusan Akuntansi Keuangan. Pada saat pengumuman tiba, Bunga dinyatakan tidak lulus.

Orangtuanya menyarankan untuk mendaftar ke Universitas Multimedia Nusantara atau Gunadarma. Bunga tetap ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Disaat kebingungan melanda, mukjizat datang untuk Bunga. Tiba-tiba ibunya ditelepon oleh pihak PNJ dan ditawarkan untuk masuk ke Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan prodi Penerbitan Pondok Cabe.

Akhirnya ia menerima tawaran yang telah diberikan. Ia tidak pernah menyangka apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya. Ia merasa bersyukur atas apa yang sudah terjadi di hidupnya.

Bagaimana

Kalau aku berlebihan berharap bagaimana? kalau aku tidak sama sekali berharap bagaimana? apakah sesuatu yang aku harapkan akan terwujud? ...